Sabtu, 16 Juni 2012

PERAN UNIVERSITAS GUNADARMA DALAM PELESTARIAN NILAI - NILAI BUDAYA


MAKALAH  ILMU BUDAYA DASAR

PERAN UNIVERSITAS GUNADARMA DALAM PELESTARIAN NILAI-NILAI BUDAYA








OLEH


NAMA           : JOECHRY FARIZ GHAZZAN
NPM              : 13111837
KELAS            : 1 KA 33




UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
JURUSAN S1 – SISTEM INFORMASI

Mata Kuliah  :  Ilmu Budaya Dasar
Dosen : Muhammad Burhan Amin

Topik Makalah

Peran Budaya Daerah Dalam Memperkokoh Ketahanan
Budaya Bangsa

Kelas  :  1 KA 33

Tanggal Penyerahan Makalah : 27 April 2012
Tanggal Upload Makalah  :  28 April 2012

P E R N Y A T A A N

Dengan ini saya menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam penyusunan makalah ini saya buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim / pihak lain.

Apabila terbukti tidak benar, saya siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.

P e n y u s u n


N P M
Nama Lengkap
Tanda Tangan
13111837
Joechry Fariz Ghazzan

  

Program Sarjana Sistem Informasi

UNIVERSITAS GUNADARMA
 

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam , Saya ucapkan pada Allah Yang Maha Pengasih lagi Pemurah, karena makalah ini dapat disusun sesuai harapan dan tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW karena melalui beliau , Kita semua tersinari cahaya keimanan yang penuh dengaan nikmat.
Rasa terima kasih saya ucapkan kepada :
1.      Kedua Orang tua yang selalu mendo’akan anaknya ini tanpa putus sehingga selalu diberi kemudahan oleh Allah.
2.      Dosen IBD Bapak Muhammad Burhan Amien yang selalu memberikan ilmunya dan memberikan bimbingan kepada kami semua.
3.      Teman-teman kelas 1 KA 33 yang bersedia memberikan saran dan bantuan.
4.      Dan semua pihak yang bersedia memberikan bantuan dan motivasi dalam mengerjakan Makalah ini.
Makalah ini membahas tentang “Kontribusi Pemerintah dan Masyarakat dalam Melestarikan Kebudayaan“. Makalah ini berhubungan dengan mata kuliah Ilmu Budaya Dasar . Penyusun menyadari betul dalam menulis makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu Saran dan kritik yang membangun sangat Saya harapkan.
Penyusun berharap, semoga makalah ini bermanfaat bagi penyumbang ilmu pengetahuan dan mampu memberikan penjelasan tentang peran kebudayaan dalam membentuk kepribadian. Tentunya, semoga makalah ini bermanfaat dalam mempelajari ilmu budaya dasar dan mendapat nilai sesuai harapan.
Demikian makalah ini Saya buat, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
Amin.

Bekasi , 27 April 2012



                                                                                                                                Penyusun

DAFTAR ISI


Halaman pengesahan………………………………………………………………………………i
Kata pengantar…………………………………………………………………………………….ii
Daftar isi………………………………………………………………………………………….iii

BAB I. PENDAHULUAN………………………………………………………………………1
  1. Latar belakang……………………………………………………………………………..1
  2. Tujuan……………………………………………………………………………………..1
  3. Sasaran…………………………………………………………………………………….1
BAB II . PERMASALAHAN……………………………………………………………………..2
  1. KEKUATAN……………………………………………………………………………...2
  2. KELEMAHAN…………………………………………………………………...……….3
  3. PELUANG……………………………………………………………………...…………4
  4. HAMBATAN…………………………………………………………………...………...6
BAB III . KESIMPULAN DAN REKOMENDASI………………………………………………7

1.      KESIMPULAN……………………………………………………………………………7
2.      REKOMENDASI…………………………………………………………………………7

REFERENSI……………………………………………………………………………………..10

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat merupakan salah satu modal sosial yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pelaksanaan pembangunan. Pelestarian dan pengembangan adat isitiadat dan nilai sosial budaya masyarakat dibangun dan mengkedepankan tiga pilar utama yaitu pilar pembangunan ekonomi masyarakat, pilar pelestarian, dan pilar kemandirian masyarakat. Pilar pertama menyangkut aspek nilai guna adat istiadat bagi tumbuh kembangnya ekonomi masyarakat untuk menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Pilar yang kedua menyangkut aspek kebertahan masyarakat yang menyongkong pada integrasi nasional. Pilar yang ketiga berkaitan dengan kemampuan masyarakat melaksanakan pengorganisasian potensi adat istiadat dan nilai sosial budaya secara otonom, mandiri, dan professional.
B.     Tujuan
Program pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat bertujuan untuk melestarikan dan pengembangan adat istiadat dan nilai budaya lokal. Yaitu seperti :
Ø  Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengkajian potensi sosial budaya masyarakat sebagai modal sosial pembangunan, serta meletakkan peluang dan ancaman dalam rangka melakukan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi, dan tindak lanjut serta pertanggung jawaban kegiatan pembangunan masyarakat.
Ø  Mendukung pengembangan budaya nasional dalam mencapai peningkatan kualitas ketahanan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
C.    Sasaran
Mengarahkan kepada mahasiswa untuk tetap menjaga nilai-nilai budaya yang ada di dalam kampus maupun di luar kampus yang berada dimana saja. Semua itu adalah dasar untuk mendapat melestarikan nilai-nilai budaya, yang dimana kampus itu sendiri memiliki peranan penting untuk menjaga melestarikan nilai-nilai budaya.


BAB II PERMASALAHAN
Analisis permasalahan Peran Universitas Gunadarma Dalam Pelestarian Nilai-Nilai Budaya dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi lingkungan internal maupun eksternal dilihat dari aspek :
1.      Kekuatan (Strength)
a.      Rasa nasionalisme
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa “kebenaran politik” (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu “identitas budaya”, debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.
b.      Pelestarian keaneka ragaman budaya
Nilai budaya yang dimiliki oleh setiap masyarakat memiliki kekayaan yang begitu besar nilainya, akan tetapi seiring perkembangan zaman upaya pelstariannyapun mulai luntur yang dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun faktor internal masyarakat itu sendiri, Coba berikan argumentasi saudara disertai dengan bukti yang kongkrit upaya apa saja yang bisa dilakukan oleh kaum generasi muda saat ini terutama dalam melestarikan dan menjaga eksistensi nilai budaya itu agar tidak luntur.
c.       Pengukuhannya dalam bentuk peraturan pemerintah
Istilah masyarakat adat mulai mendunia, setelah pada tahun 1950-an ILO, sebuah badan dunia di PBB mempopulerkan isu “indigenous peoples”. Setelah dihembuskan oleh ILO sebagai isu global di lembaga PBB, World Bank (Bank Dunia) juga mengadopsi isu tersebut untuk proyek pedanaan pembangunan di sejumlah negara, melalui kebijakan OMP (1982) dan OD (1991), terutama di negara-negara ketiga, seperti di Amerika Latin, Afrika, dan Asia Pasifik. Mencuatnya isu masyarakat adat berawal dari berbagai gerakan protes masyarakat asli “native peoples” di Amerika Utara yang meminta keadilan pembangunan, setelah kehadiran sejumlah perusahaan transnasional di bidang pertambangan beroperasi di wilayah kelola mereka, dan pengembangan sejumlah wilayah konservasi oleh pemerintah AS dan Kanada.
d.      Kemudahan mengakses segala macam informasi
Salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan. Bagi bangsa Indonesia aspek kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam, termasuk keseniannya. Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi. Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita.
2.      Kelemahan (Weakness)
a.      Pengaruh budaya asing
Perkembangan zaman dan arus informasi yang begitu cepat yang menyebabkan masuknya berbagai budaya dari luar sehingga semua budaya terabaikan. Sikap egois dan mau menang sendiri dalam berbagai aspek kehidupan akan menimbulkan gejolak sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Dan di lain pihak, pergeseran–pergeseran ini akan menipiskan akhlak, moral, dan kepribadian bangsa.
b.      Ketidakpedulian masyarakat
Kurangnya perhatian masyarakat terhadap upaya pelestarian kebudayaan Bangsa Indonesia yang kita miliki. Klaim-klaim tersebut mencerminkan lemahnya proteksi terhadap kebudayaan yang kita miliki. Mayoritas dari masyarakat kita menganggap sepi upaya pelestarian kebudayaan. Kita terlalu menganggap sepele terhadap permasalahan krisis eksistensi kebudayaan bangsa yang terjadi saat ini. Masyarakat Indonesia telah terbuai dengan kenyataan bahwa saat ini kebudayaan Indonesia tetap lestari dengan sendirinya, atau dengan kata lain terdapat anggapan bahwa kebudayaan Bangsa Indonesia akan tetap lestari dengan sendirinya. Kenyataannya, budaya kita dapat bertahan berkat upaya pelestarian yang dilakukan oleh segelintir orang dari komunitas tertentu saja dan saat ini jumlah mereka semakin berkurang dan berkurang.
c.       Kurangnya rasa kecintaan, apresiasi, dan kebanggaan
Terjadinya kurang pemahaman rasa kecintaan, apresiasi, dan kebanggaan komitmen pemerintah daerah di dalam pengelolahan pelestarian budaya. Dampaknya yaitu makin menurunnya kualitas pengellaan kebudayaan. Tanpa adanya pelestarian kebudayaan maka tidak akan timbul kontribusi bermanfaat bagi perkembangan pelestarian kebudayaan.
d.      Kurangnya sosialisasi kebudayaan kepada masyarakat
Orientasi materialistik dalam kehidupan di masyarakat juga telah mendorong sikap ingin serba cepat dalam mendapatkan keuntungan material tanpa melalui proses, dan kerja keras. Hal ini mengakibatkan nilai-nilai moral dilanggar untuk memenuhi keinginan, tanpa memikirkan nilai kejujuran dan tanggung jawab. Oleh karena itu perlu dibangun sistem yang mampu memfasilitasi berkembangnya kepribadian yang jujur dan bertanggung jawab.
3.      Peluang (Opportunity)
a.      Petumbuhan usaha jasa parawisata domestik dan macanegara
Gambaran prospek strategis pariwisata sebagai pilar pembangunan nasional antara lain dapat ditunjukkan dari angka kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara dalam tahun-tahun terakhir yang terus menunjukkan peningkatan. Sektor pariwisata juga melibatkan jutaan tenaga kerja baik di bidang perhotelan, makanan, transportasi, pemandu wisata, maupun industri kerajinan. Sejalan dengan perkembangan Industri Pariwisata yang semakin kompetitif dan kecenderungan pasar dunia yang semakin dinamis, maka pembangunan kepariwisataan Indonesia harus didorong pengembangannya secara lebih kuat dan diarahkan secara tepat untuk meningkatkan keunggulan banding dan keunggulan saing Kepariwisataan Indonesia dalam peta Kepariwisataan regional maupun internasional.
b.      Makin solid dan kuatnya rasa persatuan dan kesatuan
Tersirat suatu hal yang sangat fundamental bagi keberlangsungan dan eksistensi suatu “nation state”. Bahwa dengan membuat suatu kesatuan bersama antar negara-negara tetangga menandakan bahwa tercermin ketidak percayadirian masing-masing negara untuk menjalankan fungsi kenegaraannya tanpa adanya suatu hubungan, usaha, dan bantuan bersama negara lain. Pemahaman ini pada hakikatnya tidaklah salah selama masing-masing negara yang bergabung dalam kesatuan tersebut tahu betul, bergabungnya mereka dalam kesatuan tersebuat harus memberi warna bagi kesatuan berdasar eksistensinya. Bukan sebaliknya, bergabung dengan tujuan hanya berharap bantuan dan kemudahan belaka dalam menjalin hubungan antar negara lain. Jika paham ini yang terbentuk, maka akan ada dominasi dan dan pihak (negara) yang tersubordinat dalam perkumpulan kesatuan ini.
c.       Berkembangnya multimedia
Komputer memiliki banyak keuntungan karena teknologi prosesor dengan program yang canggih dan low energy. Komputer sering digunakan sebagai media mengajar dengan multimedia, sehingga lebih menarik dan mudah dicerna oleh mahasiswa. Program-program yang ada juga sangat membantu manusia menyelesaikan tugas-tugasnya baik menghitung maupun database dan program yang lain. Permainan interaktif yang membangun kreativitas kita. Ditambah lagi dengan sambungan internet, maka informasi akan mudah dan cepat didapatkan.
d.      Terciptanya infrastruktur sarana dan prasarana mendukung pariwisata
Pariwisata adalah suatu (kegiatan) perjalanan seseorang dari tempat asalnya ke suatu tempat/lingkungan yang berbeda dengan kondisi lingkungan asalnya untuk suatu tujuan tertentu seperti rekreasi, bisnis, silaturahmi/kunjungan keluarga atau tujuan lainnya yang memerlukan waktu lebih dari 24 jam, serta memanfaatkan unsur-unsur pendukung/fasilitas penunjang misalnya transportasi, akomodasi, rumah makan, hiburan, souvenir dan seterusnya. Karena itulah pariwisata pada era belakangan ini berkembang dalam berbagai dimensi tujuan seperti wisata alam/bahari, wisata budaya (tangible : situs,/prasejarah, candi, bangunan keagamaan, bangunan sejarah, bangunan tradisional, museum; intangible : sendratasik, adat istiadat, nilai budaya), wisata kuliner, wisata kesehatan, wisata olahraga, wisata pendidikan, wisata agro, wisata kerja, MICE, wisata religi dan lain sebagainya. Karena itu, ketika membicarakan mengenai pariwisata, maka tidak akan lepas dari pembicaraan mengenai ”pelaku kegiatan, waktu, maksud dan tujuan serta ketersediaan unsur-unsur pendukung tersebut, sesuatu perjalanan (wisata)”. Pemahaman akan unsur-unsur Pariwisata akan mengarahkan kita kepada pemahaman akan apa yang menjadi komponen pengembangan Pariwisata bilamana kita ingin menjadikannya sebagai sebuah kegiatan yang memberi manfaat bagi Negara dan Masyarakat, apa arah dan kebijakan yang harus ditempuh terhadap pembangunan ke-pariwisata-an Indonesia dan dunia. Harus diketahui juga bahwa Pariwisata tidak dapat berdiri sendiri karena kepariwisataan adalah kegiatan multi dimensi, kegiatan yang terkait dengan unsur yang lain seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan hankam termasuk dimensi kemasyarakatan lainnya.
4.      Tantangan / Hambatan (Trheats)
a.      Perpecahan di dalam masyarakat itu sendiri
Terjadinya dinamika dalam kehidupan masyarakat, karena dalam realitas sosial selalu terjadi proses sosialisasi, internalisasi dan institusionalisasi nilai-nilai budaya, sehingga konflik dan integrasi dapat dipahami sebagai dinamika yang mendorong terjadi proses transformasi sosial. Sejalan dengan pemikiran Berger dan Lucman, Gidden (dalam Delanty, 1999) menyebutnya dengan reflexivity, bahwa manusia mempunyai ide mengenai dunia sosial dan tentang dirinya, terutama masa depannya.
b.      Relativ minimnya filterlisasi terhadap budaya
Perkembangan teknologi informasi, telekomunikasi dan transportasi sangat cepat sehingga dapat menghilangkan batas negara. Kondisi ini, secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi budaya setempat dengan cepat sehingga bila tidak disikapi dengan bijak dan cermat bisa berdampak negatif seperti kehilangan jati diri, konsumerisme, penyebaran penyakit dan demoralisasi.
c.       Banyaknya situs-situs dan benda-benda cagar budaya yang rusak
Pada masa otonomi daerah saat ini, dimana Pemerintah Daerah (Pemda) mempunyai kewenangan yang besar untuk mengatur daerahnya, telah juga ikut serta dalam hal pelestarian benda cagar budaya yang dahulunya dominan dilakukan oleh pemerintah pusat. Di satu sisi ada baiknya bahwa pemda terlibat dalam pelestarian benda cagar budaya, karena tidak sedikit biaya yang diperlukan dan tidak cukup ditangani oleh pemerintah pusat. Namun di sisi lain pelestarian benda cagar budaya oleh pemda sering kali tidak sesuai yang diharapkan.
d.      Peningkatan kemampuan sumber daya manusia
Selain rendahnya kualitas SDM dan besarnya angka pengangguran, tantangan pembangunan kependudukan di Indonesia berkaitan dengan menurunnya daya dukung alam bagi kehidupan umat manusia. Pembangunan kependudukan menjadi semakin penting mendapat perhatian di masa sekarang dan masa yang akan datang.

BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1.      Kesimpulan
·         Harus banyak belajar tentang nilai-nilai kebudayaan sejak dini.
·         Untuk mengembangkan nilai-nilai kebudayaan tidak hanya kampus saja yang berperan aktif tetapi juga semua elemen yang berada didalamnya.
·         Menjaga hubungan antara elemen satu dengan elemen yang lain sehingga apa yang diharapkan akan tecapai sesuai dengan yang diharapkan , yaitu pelestarian nilai kebudayaan dilingkungan tersebut.
·         Kesadaran tiap elemen untuk menghindari masuknya kebudayaan asing dalam diri masing-masing.
·         Tetap menjaga nama baik kampus dalam melestarikan nilai kebudayaan tanpa harus adanya sikap-sikap yang dapat merugikan salah satu pihak.
2.      Rekomendasi
a.      Pengukuhan aset budaya dalam bentuk peraturan pemerintah daerah dan pusat maupun internasional
·         Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengkajian potensi sosial budaya masyarakat (khususnya di bidang seni budaya lokal) sebagai modal sosial pembangunan, serta memetakan peluang dan ancaman dalam rangka melakukan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan tindak lanjut serta pertanggungjawaban kegiatan pembangunan masyarakat perdesaan.
·         Memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat pengembang seni budaya masyarakat Lokal, khususnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bagi kelompok tersebut dalam upaya untuk tetap melestarikan seni budaya dimaksud,  melalui pengembangan usaha ekonomi produktif yang sesuai.
·         Mendukung pengembangan budaya nasional dalam mencapai peningkatan kualitas ketahanan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b.      Peningkatan sosialisasi dan apresiasi kebudayaan kepada masyarakat melalui media maupun kegiatan nyata dalam bentuk pesta budaya yang teragendakan
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dikehendaki terhadap keaslian dan perkembangan yang murni bagi kesenian rakyat tersebut, maka pemerintah perlu mengembalikan fungsi pemerintah sebagai pelindung dan pengayom kesenian-kesenian tradisional tanpa harus turut campur dalam proses estetikanya. Memang diakui bahwa kesenian rakyat saat ini membutuhkan dana dan bantuan pemerintah sehingga sulit untuk menghindari keterlibatan pemerintah dan bagi para seniman rakyat ini merupakan sesuatu yang sulit pula membuat keputusan sendiri untuk sesuai dengan keaslian (oroginalitas) yang diinginkan para seniman rakyat tersebut. Oleh karena itu pemerintah harus ‘melakoni’ dengan benar-benar peranannya sebagai pengayom yang melindungi keaslian dan perkembangan secara estetis kesenian rakyat tersebut tanpa harus merubah dan menyesuaikan dengan kebijakan-kebijakan politik. Globalisasi informasi dan budaya yang terjadi menjelang millenium baru seperti saat ini adalah sesuatu yang tak dapat dielakkan.
c.       Pertumbuhan usaha jasa parawisata domestik dan mancanegara menjadikan sumber devisa bagi negara untuk itu perlu ditunjang dengan pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana
Meningkatan daya saing Daya Tarik Wisata diwujudkan dalam bentuk pengembangan kualitas dan keragaman usaha Daya Tarik Wisata. Strategi untuk pengembangan kualitas dan keragaman usaha, meliputi :
·         Mengembangkan manajemen atraksi.
·         Memperbaiki kualitas interpretasi.
·         Menguatkan kualitas produk wisata
·         Meningkatkan pengemasan produk wisata.
d.      Peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan yang berjenjang dan berkelanjutan
·         Meningkatkan dan mengembangkan kualitas pendidikan jalur sekolah agar sejalan dengan pertumbuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berwawasan IPTEK dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja.
·         Mengembangkan pendidikan jalur luar sekolah dan pelatihan agar memiliki link and match dengan kebutuhan pasar tenaga kerja serta kebutuhan pembangunan.
·         Mengembangkan aspek sosial budaya masyarakat dalam rangka membangun dan mengembangkan nilai-nilai sosial baru yang berkenaan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, seperti pengembangan wawasan, etos kerja dan semangat berkarya.
·          Meningkatkan pendidikan agama, serta meningkatkan apresiasi kesenian dan budaya daerah, untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berwawasan iman dan taqwa (IMTAQ).


REFERENSI

http://bapemas.jatimprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=302:pelestarian-dan-pengembangan-adat-istiadat-dan-nilai-sosial-budaya-masyarakat&catid=88:kegiatan-sosbud-nama-bidang&Itemid=335
http://nellahutasoit.wordpress.com/2012/04/22/pengaruh-globalisasi-terhadap-rasa-nasionalisme-bangsa-indonesia/
http://deeanastasia.blogspot.com/2011/04/upaya-pelestarian-budaya-indoensia.html
http://www.ymp.or.id/content/view/107/35/
http://rendhi.wordpress.com/makalah-pengaruh-globalisasi-terhadap-eksistensi-kebudayaan-daerah/
http://www.bpsnt-makassar.net/index.php/component/content/article/42-kegiatan/88-penanaman-nilainilai-budaya-sipakatau-dalam-kehidupan-generasi-muda.html
http://jelajahsitus.blogspot.com/2009/09/pelestarian-benda-cagar-budaya-dahulu.html



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar